Beranda Dekopinwil Jatim Dekopinwil Jatim Apresiasi Workshop Mitigasi Risiko Koperasi, Dorong Generasi Muda Jadi Kader...

Dekopinwil Jatim Apresiasi Workshop Mitigasi Risiko Koperasi, Dorong Generasi Muda Jadi Kader Masa Depan Koperasi

58
0
Ketua Dekopinwil Jatim saat memberikan sambutan pada workshop tata kelola koperasi modern
Ketua Dekopinwil Jatim saat memberikan sambutan pada workshop tata kelola koperasi modern
Advertisement

PIPJatim.Id, Kediri – Fenomena gagal bayar atau galbay yang melanda sejumlah koperasi menjadi perhatian serius gerakan koperasi di Jawa Timur. Upaya pencegahan melalui penguatan tata kelola, mitigasi risiko, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha koperasi.

Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Mitigasi Risiko Koperasi bertajuk “Tata Kelola Koperasi Modern: Mitigasi Risiko Mencegah Koperasi Galbay (Gagal Bayar)” yang diselenggarakan oleh Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Kediri, Sabtu (10/10/2026), di Aula Kantor Dekopinda Kabupaten Kediri.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jawa Timur, Slamet Sutanto, SE, MM, mengapresiasi penyelenggaraan workshop tersebut. Menurut dia, kegiatan ini menjadi langkah preventif yang penting untuk membantu koperasi mengenali dan mengantisipasi potensi risiko gagal bayar.

“Maraknya fenomena gagal bayar perlu disikapi dengan langkah-langkah preventif. Karena itu, Dekopinwil Jawa Timur mengapresiasi kegiatan ini sebagai upaya membantu koperasi mengantisipasi potensi terjadinya gagal bayar,” ujar Slamet.

Ia menilai, persoalan gagal bayar tidak bisa dianggap sebagai masalah yang hanya terjadi di satu wilayah. Berdasarkan fenomena yang berkembang, persoalan tersebut telah menyebar di berbagai daerah di Jawa Timur sehingga membutuhkan perhatian bersama dari seluruh elemen gerakan koperasi.

Slamet berharap, kegiatan serupa dapat direplikasi oleh Dekopinda kabupaten dan kota lainnya di Jawa Timur. Dengan demikian, semakin banyak koperasi yang memiliki pemahaman memadai mengenai mitigasi risiko dan pentingnya penerapan tata kelola yang sehat.

“Saya berharap Dekopinda lainnya juga dapat melaksanakan kegiatan seperti ini. Faktanya, fenomena gagal bayar tersebar di seluruh Jawa Timur sehingga perlu ada langkah antisipasi secara bersama-sama,” katanya.

Generasi Muda jadi Harapan Masa Depan Koperasi

Workshop tersebut diikuti 125 peserta yang didominasi generasi muda atau Gen Z berusia di bawah 40 tahun. Menariknya, sebagian besar peserta telah memiliki usaha mandiri sehingga dinilai memiliki potensi untuk menjadi bagian penting dalam pengembangan koperasi modern.

Menurut Slamet, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan perkoperasian merupakan peluang strategis untuk menyiapkan kader penerus gerakan koperasi. Pengalaman mereka dalam menjalankan usaha mandiri dapat menjadi modal untuk mengembangkan koperasi yang lebih adaptif, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia berharap, melalui kegiatan tersebut, generasi muda tidak hanya memahami pentingnya mitigasi risiko, tetapi juga terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam membangun dan memajukan koperasi.

Keterlibatan generasi muda diharapkan mampu menghadirkan gagasan baru dalam pengelolaan usaha, memperluas jaringan bisnis, serta memperkuat pemanfaatan teknologi dalam operasional koperasi.

“Harapannya, generasi muda ini bisa menjadi kader penerus koperasi dan ikut berpartisipasi membangun koperasi agar usahanya semakin maju, sehingga kesejahteraan bersama dapat diwujudkan,” tutur Slamet.

Tata Kelola Koperasi Sehat Untuk Menjaga Kepercayaan Anggota

Penyelenggaraan workshop mitigasi risiko menjadi momentum bagi gerakan koperasi untuk memperkuat kesadaran bahwa keberhasilan koperasi tidak cukup diukur dari pertumbuhan usaha semata. Kemampuan mengelola risiko, menjaga kesehatan keuangan, serta menjalankan tata kelola yang baik juga menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan koperasi.

Risiko gagal bayar perlu diantisipasi melalui pengelolaan keuangan yang cermat, penilaian kemampuan pembayaran anggota atau peminjam, pengawasan terhadap penyaluran pinjaman, serta sistem peringatan dini terhadap potensi pembiayaan bermasalah.

Selain itu, transparansi pengelolaan dan akuntabilitas pengurus menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan anggota. Dengan tata kelola yang sehat, koperasi diharapkan mampu menjalankan kegiatan usaha secara berkelanjutan sekaligus melindungi kepentingan anggotanya.

Melalui workshop yang digelar Dekopinda Kabupaten Kediri ini, gerakan koperasi diharapkan semakin memperkuat komitmen untuk membangun koperasi yang profesional, tangguh, dan berorientasi pada kesejahteraan anggota.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah bersama untuk mencegah risiko gagal bayar, memperkuat kepercayaan masyarakat, dan menyiapkan generasi penerus yang mampu membawa koperasi Jawa Timur menjadi lebih maju di masa depan.

Penulis : Sucipto

Editor : Sucipto

Advertisement
Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini