PIPJatim.Id, JAKARTA – Di sebuah sudut ingatan tentang Republik yang baru lahir, kita selalu menemukan bayang-bayang Mohammad Hatta. Lelaki yang percaya bahwa kemerdekaan bukan sekadar pekik di lapangan terbuka. Melainkan sebuah ikhtiar bersama di dalam dapur-dapur rakyat.
Bagi Hatta, daulat ekonomi adalah daulat rakyat. Alatnya adalah koperasi. Sebuah kata yang hari-hari ini terdengar seperti sebuah gema yang antik, atau mungkin, sebuah pameran lemari tua yang berdebu.
Ada yang keliru dalam perjalanan itu. Sejarah mencatat bagaimana sebuah ide murni tentang gotong-royong perlahan-lahan dikooptasi. Ketika kekuasaan yang besar apakah itu bernama Orde Baru atau birokrasi yang gemuk hari ini mulai mengulurkan tangannya yang panjang.
Koperasi tak lagi lahir dari rahim kesadaran. Ia digerakkan oleh instruksi, distandarisasi oleh juklak dan juknis, dan akhirnya, dijinakkan.
Koperasi menjadi sebuah perpanjangan tangan dari meja-meja pejabat di ibu kota. Ia kehilangan taringnya sebagai gerakan, dan berubah menjadi sekadar ornamen administratif.
Maka kita melihat potret yang lesu itu, gerakan koperasi yang melempem. Bukan karena rakyat kehilangan hasrat untuk bekerja bersama. Melainkan karena ruang hidupnya telah disesaki oleh intervensi politik yang kental.
Pengurus koperasi kerap kali menjadi bidak-bidak dalam papan catur pemilu, atau pelengkap penderita dalam pidato-pidato seremonial para pejabat. Organisasinya menjadi rapuh dari dalam karena ia tidak tumbuh dari basis kebutuhan yang otonom. Melainkan ditopang oleh subsidi dan ketergantungan pada kekuasaan.
Di tengah lanskap yang muram itulah, lahirnya Ikatan Keluarga Alumni Koperasi Mahasiswa (IKA KOPMA) menjadi menarik. Ia muncul bukan sebagai kelanjutan dari birokrasi tua itu. Melainkan sebagai sebuah bentuk keresahan intelektual yang berakar.
Gerakan baru ini mencoba melakukan sesuatu yang selama ini absen. Mengagregasi kembali puing-puing gerakan koperasi yang terserak dan melempem. Ada sebuah kesadaran sosiologis di sana bahwa mahasiswa yang dulu mengelola Kopma di kampus-kampus, kini telah menjelma menjadi kaum profesional, pemikir, dan penggerak di berbagai sektor. Mereka memiliki ingatan kolektif tentang kemandirian masa muda, dan kini mencoba merajutnya kembali ke dalam skala nasional.
IKA KOPMA, dalam posisi idealnya, bertindak sebagai kritikus sosiologis. Ia hadir untuk mempreteli kelemahan internal organisasi gerakan koperasi yang telanjur nyaman dalam pelukan negara.
Analisis sosialnya cukup tajam, bahwa koperasi tidak akan pernah menjadi sokoguru perekonomian nasional selama ia masih diperlakukan seperti anak kecil yang harus terus dituntun dan sekaligus diawasi oleh pamong praja.
Intervensi politik yang kental harus diputus. Koperasi harus dikembalikan pada khitahnya sebagai organisasi sipil yang mandiri dan demokratis.
Gagasan baru apa yang dibawa? Di era digital dan globalisasi yang disruptif ini, IKA KOPMA menawarkan rekonstruksi modern atas pemikiran Hatta. Koperasi bukan lagi sekadar warung kelontong atau simpan-pinjam konvensional di tingkat desa.
Koperasi adalah sebuah ekosistem. Ia berbicara tentang platform cooperativism, tentang bagaimana teknologi digital dapat digunakan untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi rakyat tanpa kehilangan asas keadilan. Ia menawarkan tata kelola yang transparan, profesionalisme yang ketat, namun tetap setia pada kepemilikan bersama. Ia adalah perlawanan terhadap kapitalisme yang rakus sekaligus kritik terhadap sosialisme negara yang mematikan inisiatif warga.
Pada akhirnya, gerakan ini adalah sebuah upaya untuk menjemput kembali cita-cita Indonesia Merdeka. Sebuah kemerdekaan yang tidak hanya ditandai oleh tiang bendera, tetapi oleh kemampuan seorang petani, seorang buruh, dan seorang pedagang kecil untuk menentukan nasib ekonominya sendiri.
Koperasi adalah alat perjuangan itu. Dan IKA KOPMA, dengan segala bekal intelektual dan jaringannya, mencoba menjadi pemantik dari mesin yang sudah lama berkarat. Kita berharap, ia tak sekadar menjadi perhimpunan nostalgia para alumni, melainkan sebuah subjek sejarah yang baru. Sebuah manifesto bahwa ekonomi kita, setelah sekian lama digulung oleh pasar dan dikooptasi oleh negara, harus kembali ke tangan orang-orang biasa.
Penulis : Nur Khalim Mahmudi
(Penulis adalah Sekjen IKA KOPMA)































